Diagram & Rumus Bunga

Diagram bunga & Rumus bunga

Dalam mendeskripsikan bunga, disamping secara verbal (dengan kata-kata) dapat ditambahkan gambar-gambar, agar pembaca dapat memperoleh kesan yang lebih mendalam tentang keadaan bunga. Salah satu gambar yang melukiskan keadaan bunga dan bagian-bagiannya adalah diagram bunga.
Yang dinamakan diagram bunga ialah suatu gambar proyeksi pada bidang datar dari semua bagian bunga yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu di gambarkan penampang-penampang melintang daun-daun kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik, juga bagian-bagian lainnya jika masih ada, disamping keempat bagian pokok tersebut, perlu diperhatikan bahwa lazimnya dari daun-daun kelopak dan tajuk bunga digambar penampang melintang bagian tengah-tengahnya, sedang dari benang sari digambarkan penampang kepala sari, dan dari putik penampang melintang bakal buahnya. Dari diagram bunga tersebut selanjutnya dapat diketahui pula jumlah masing-masing bagian bunga tadi dan bagimana letak dan susunannya antara yang satu dengan yang lain. Selain itu perlu diingat pula bahwa diagram bunga sedikit banyak merupakan suatu gambar yang bersifat skematik.
Dalam membicarakan tentang bunga dan bagian-bagiannya, telah diterangkan, bahwa bagian-bagian bunga duduk diatas dasar bunga, masing-masing teratur dalam satu lingkaran atau lebih. Dalam diagram bunga, masing-masaing bagian harus digambarkan sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin dua bagian bunga yang berlainan digambarkan dengan gambar yang sama. Mengingat, bahwa yang digambar pada diagram itu penampang-penampang melintang masing-masing bagian bunga yang telah dijelaskan diatas.
Cara membuat suatu diagram bunga:
1.       Letak bunga pada tumbuhan. Dalam hubungannya dengan perencanaan suatu diagram, kita hanya membedakan dua macam letak bunga:
a.       Bunga pada ujung batang atau cabang (flos terminalis)
b.      Bunga yang terdapat dalam ketiak daun (flos axillaris)
2.       Bagian-bagian bunga yang akan dibuat tersusun atas beberapa lingkaran.
Jika dari bunga yang hendak kita buat diagramnya telah kita tentukan kedua hal tersebut, kita mulai dengan membuat sejumlah lingkaran yang konsentris, sesuai dengan jumlah lingkaran tempat duduk bagian-bagian bunganya.
Kemudian melalui titik pusat lingkaran-lingakran yang konsentris itu kita buat garis tegak lurus (vertikal). Untuk bunga di ketiak daun, garis itu menggambarkan bidang yang dapat dibuat melalui sumbu bunga, sumbu batang yang mendukung bunga itu, dan tengah-tengah (poros bujur) daun, yang dari ketiaknya muncul bunga tadi. Bidang ini disebut bidang median. Pada garis yang menggambarkan bidang median itu disebelah atas lingkaran yang terluar digambarkan secara skematik penampang melintang batang (digambarkan sebagai lingkaran kecil) dan disebelah bawahnya gambar skematik daun pelindungnya. Pada lingkaran-lingkarannya sendiri berturut-turut dari luar ke dalam digambarkan daun-daun kelopak, daun-daun tajuk, benang sari, dan yang terakhir penampang melintang bakal buah. Dalam menggambar bagian-bagian bunganya sendiri yang harus diperhatikan ialah:
a.       Berapa jumlah masing-masing bagian bunga tadi.
b.      Bagaimana susunannya terhadap sesamanya (misalnya daun kelopak yang satu dengan yang lain), bebas satu sama yang lain, bersentuhan tepinya, berlekatan atau lain lagi.
c.       Bagaimana susunannya terhadap bagian-bagian bunga yang lain (daun-daun kelopak terhadap tajuk bunga, benang sari dan daun-daun buah penyusun putiknya) berhadapan atau berseling, bebas atau berlekatan dan seterusnya).
d.      Bagaimana letak bagian-bagian bunga itu terhadap bidang median.
Ternyata, bahwa seringkali bidang median itu membagi bunga dalam dua bagian yang setangkup (simetrik).
                Bagi bunga yang letaknya pada ujung batang/cabang, tidak dikenal bidang mediannya disebelah atas lingkaran yang terluar tidak pula digambar penampang melintang batang (karena pada bunga yang demikian batang itu akan bersambung dengan tangkai bunga) tetapi pada sebelah bawah biasanya masih ditambahkan gambar penampang melintang daun pelindung (jika ada).
                Jadi dengan demikian, pada suatu diagram bunga tidak hanya kita ketahui hal-hal yang menyangkut bagian-bagian bunganya saja, tetapi juga dapat diketahui mengenai letaknya pada tumbuhan. Pada gambar berikut diberikan contoh diagram bunga yang diketiak daun dan yang terdapat pada ujung batang/cabang.
                Telah dikemukakan pula, bahwa dalam pembuatan diagram bunga selain keempat bagian bunga yang pokok: kelopak, tajuk, benang sari, dan putik dapat pula digambar bagian-bagian lain, jika memang ada dan dipandang perlu untuk dikemukakan. Bagian-bagian lain pada bunga yang sering kali dapat menjadi ciri yang khas untuk golongan tumbuhan tertentu dan sewajarnya pula jika dinyatakan pada diagram bunga, antara lain:
a.       Kelopak tambahan (epicalix), umumnya terdapat pada tumbuhan sukuMalvaceae. Misalnya kapas (Gossypium sp.), kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.). dan lain-lain.
b.      Mahkota (tajuk) tambahan (corona), yang biasa terdapat pada sukunAsciepiadaceae, misalnya biduri (Calotropis gigantea Dryand.)
                Dikemukakan pula dalam membicarakan perihal bagian-bagian bunga bahwa ada bagian-bagian bunga yang mengalami metamorfosis atau tereduksi atau lenyap sama sekali. Pertalian dengan soal ini dalam menyusun diagram bunga kita dapat berpendirian:
1.       Hanya menggambarkan bagian-bagian bunga menurut apa adanya.
2.       Membuat bagian bunga yang gtidak hanya memuat bagian-bagian yang benar-banar ada, tetapi juga menggambarkan bagian-bagian yang sudah tidak ada (tereduksi). Namun, menurut teori sudah ada.
                Dengan demikian, kita dapat membedakan dua macam diagram bunga:
a.       Diagram bunga empirik, yaitu diagram bunga yang hanya memuat bagian-bagian bunga yang benar-benar ada, jadi menggambarkan keadaan bunga yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, diagram ini juga dinamakan digram sungguh (yang sebenarnya).
b.      Diagram teoritik, yaitu digram bunga yang selain menggambarkan bagian-bagian bunga yang sesungguhnya juga memuat bagian-bagian yang sudah tidak ada lagi. Tetapi menurut teori seharusnya ada.
                Bagian-bagian yang hanya menurut teori saja seharusnya ada, tidak digambarkan seperti bagian-bagian yang benar-benar ada, melainkan dengan lambang lain. Biasanya bintang atau silang kecil. Kebanyakan hal ini hanya mengenai benang-benang sari saja yang keadaan sesungguhnya pada bunga seringkali tidak cocok dengan teori.
Rumus Bunga
                Kecuali dengan diagram, susunan bunga dapat pula dinyatakan dengan sebuah rumus yang terdiri atas lambang-lambang, huruf-huruf dan angka-angka. Yang semua itu dapat memberikan gambaran mengenai berbagai sifat bunga beserta bagian-bagiannya.
                Lambang-lambang yang dipakai dalam rumus bunga memberitahukan sifat bunga yang bertalian dengan simetrisnya atau jenis kelaminnya, huruf-huruf merupakan singkatan nama bagian bunga, sedang angka-angka menunjukkan jumlah masing-masing bagian bunga. Disamping itu masih terdapat lambang-lambang lain lagi yang memperlihatkan hubungan bagian-bagian bunga satu sama lain.
                Oleh suatu rumus bunga hanya dapat ditunjukkan hal-hal mengenai 4 bagian pokok bunga sebagai berikut:
1.       Kelopak, yang dinyatakan dengan huruf K singaktan kata kalix (calix), yang merupakan istilah ilmiah untuk kelopak.
2.       Tajuk atau mahkota, yang dinyatakan dengan huruf C singkatan kata corolla(istilah untuk mahkota bunga)
3.       Benang-benang sari yang dinyatakan dengan huruf A singkatan kataandroecium (istilah ilmiah untuk alat-alat jantan pada bunga)
4.       Putik yang dinyatakan dengan huruf G singakatan kata gymnaecium (istilah untuk alat betina pada bunga)
                Jika kelopak dan mahkota sama, baik bentuk maupun warnanya, kita lalu mempergunakan huruf lain untuk menyatakan bagian tersebut, yaiut huruf P singkatan kata perigonium (tenda bunga).
                Dibelakang huruf-huruf tadi lalu ditaruhkan angka-angka yang menunjukkan jumlah masing-masing bagian tadi dan diantara dua bagian bunga yang digambarkan dengan huruf dan angka itu ditaruh koma.
                Jika bunga misalnya mempunyai 5 daun kelopak, 5 daun mahkota, 10 benang sari dan putik yang terjadi dari sehelai daun buah. Maka rumusnya adalah:
K 5. C 5. A 10. G 1 (bunga merak: Caesalpinia pulcherrima Swartz.)
                Jika kita mengambil contoh lain yaitu bunga yang mempunyai tenda bunga. Misalnya, lilia gereja (Lilium longiflorum Thunb.) yang mempunyai 6 daun tenda bunga, 6 benang sari dan sebuah putik yang terjadi dari 3 daun buah. Maka rumusnya adalah:
P 6. A 6. G 3.
                Didepan rumus hendaknya diberi tanda yang menunjukkan simetrei bunga. Biasanya hanya diberikan dua macam tanda simetri. Yaitu, ‘ untuk bunga yang bersimetri banyak (octinomorphus) dan tanda  untuk bunga yangbersimetri satu (zygomorphus). Jadi, dalam hal rumus bunga merak yang bersifat zigomorf, rumusnya menjadi:
 K 5. A 5. A 10. G 1.
Sedangkan, bunga lilia gereja yang bersifat aktinomorf rumusnya menjadi:
‘ P 6. A 6. G 3.
Selain lambang yang menunjukkan simetri pada rumus bunga dapat pula ditambahkan lambang yang menunjukkan jenis kelamin bunga. Untuk bunga yang banci (hemafroditus) dipakai lambang: S. Untuk bunga jantan dipakai lambang U dan untuk bunga betina dipakai lambang: T. Lambang jenis kelamin ditempatkan di depan lambang simetri. Jika kedua contoh rumus tersebut di atas dilengkapi dengan lambang jenis kelaminnya, maka rumusnya menjadi:
S  K 5. C 5. A 10. G 1. Dan
S ‘ P 6. A 6. G 3.
                Suatu bagian bunga dapat tersusun dalam lebih daripada satu lingkaran. Bunga-bunga yang dipakai contoh diatas misalnya, masing-masing mempunyai bagian-bagiannya yang tersusun dalam 5 lingkaran. Bunga merak misalnya mempunyai 2 lingkaran benang sari dengan 5 benang sari dalam tiap lingkaran, sedangkan bunga lilia gereja mempunyai 2 lingkaran daun tenda bunga dan 2 lingkaran benang sari, tiap lingkaran berbilangan 3. Dalam hal yang demikian di belakang huruf yang menunjukkan bagian yang tersusun dalam lebih daripada satu lingkaran tadi harus ditaruh 2 kali angka yang menunjukkan jumlah bagian di dalam tiap lingkaran dengan tenda + (tanda tambah) diantara kedua angka tadi. Contoh kedua rumus di atas harus kita ubah menjadi:
S  K 5. C 5. A 5 + 5. G 1. Dan
S ‘ P 3 + 3. A 3 + 3. G 3.
                Jika bagian-bagian bunga yang tersusun dalam masing-masing lingkaran itu berlekatan satu sama lain, maka yang menunjukkan jumlah bagian di dalam tiap lingkaran dengan tanda + (tanda tambah) diantara kedua angka tadi. Contoh kedua rumus di atas harus kita ubah menjadi:
S  K (5). C 5. A 5 + 5. G 1.
S ‘ P (3 + 3). A 3 + 3. G (3).
Karena pada bunga merak daun-daun kelopaknya berlekatan satu sama lain, sedangkan pada bunga lilia gereja yang berlekatan daun-daun tenda bunga dan daun-daun buahnya. Ada kalanya yang berlekatan adalah dua macam bagian bunga. Misanya, seperti terdapat pada bunga waru (Hibiscus tiliaceus L.). dalam keadaan yang demikian yang ditempatkan dalam kurung adalah kedua huruf beserta angkanya yang menunjukkan kedua macam bagian bunga yang berlekatan tadi. Pada contoh ini (bunga waru), benang-benang sarinya sendiri berlekatan pula satu sama lalin, oleh sebab itu angka yang menunjukkan jumlah benang sari yang ditaruh dalam tanda kurung, sedang tanda-tanda yang menunjukkan mahkota dan benang-benang sari lalu ditaruh dalam kurung besar. Untuk jelasnya rumus bunga waru tadi adalah seperti berikut:
S ‘ K (5). [ C 5. A (∞). G 5.
Jadi pada bunga waru kita dapati banyak benang sari yang berlekatan satu sama lain dan seluruhnya berlekatan lagi dengan daun-daun mahkota.
                Selain lambang-lambang yang telah diuraikan di atas dalam menyusun suatu rumus bunga masih ada lambang lain lagi, yaitu lambang untuk menyatakan duduknya bakal buah (jadi juga putiknya). Untuk bakal buah yang menumpang di bawah angka yang menunjukkan bilangan daun buah, dibuat suatu garis (bilangan yang menunjukkan jumlah daun buah terletak di atas garis), sedang untuk bakal buah yang tenggelam garis ditaruh di ats angka tadi. Untuk bakal buah yang setengah tenggelam tidak ada tanda khusus, atau dapat ditafsirkan sebagai setengah tenggelam, jika untuk bakal buah tidak ada pernyataan menumpang atau tenggelam.
                Dengan demikian, jika dari kedua contoh bunga di atas kita harus membuat rumus bunga yang lengkap, rumus tadi akan menjadi seperti berikut:
S  K (5). C 5. A 5 + 5. G 1.
S ' P (3 + 3). A 3 + 3. G (3).
                Setelah kita pahami hal-hal yang menyangkut soal rumus bunga, dapat sekarang keadaan kita balik, artinya jika kita melihat kedua rumus bunga di atas, maka dapat kita bayangkan bahwa:
-          Bunga merak adalah bunga yang banci, zigomorf mempunyai 5 daun kelopak yang berlekatan satu sama lain, 5 daun mahkota yang bebas, 2 lingkaran benang sari dengan 5 benang sari dalam masing-masing lingkaran, bakal buah yang terjadi dari sehelai daun buah yang duduknya menumpang.
-          Bunga lilia gereja adalah bunga banci, aktinomorf, mempunyai 6 daun tenda bunga yang tersusun dalam 2 lingkaran tetapi ke 6 daun tenda bunga tadi berlekatan satu sama lian, 6 benang sari yang tersusun dalam dua lingkaran dan satu bakal buah yang menumpang dan terjadi dari 3 daun buah yang berlekatan.
                Jelaslah  bahwa dari setiap bunga yang kita amati dapat pula selalu kita buat rumusnya. Mingingat bahwa urut-urutan bagian bunga sifatnya teap maka dalam menyusun suatu rumus bunga, huruf-huruf yang merupakan singkatan nama bagian bunga tadi sering ditiadakan. Juga lambang jenis kelamin seringkali di tiadakan, karena jinas kelamin itu dapat terlihat pula dari rumus ialah: jika ada benang sari maupun putik, berarti bunga itu bersifat banci, tetapi jika di belakang A kita dapati angka 0 berarti bunganya betina. Sebaliknya, jika dalam rumus tertera G 0, berarti bunganya adalah bunga jantan, dengan ini rumus bunga merak misalnya dapat kita sederhanakan menjadi:
 (5). 5 5 + 5. 1
                Jika kita membandingkan diagram dengan rumus bunga pada diagram lebih banyak tercantum keterangan-keterangn mengenai susunan bagian-bagian bunga, hanya tak dapat diketahui pada diagram bunga bagaimana letaknya bakal buah, menumpang, tenggelam, ataukah setengah tenggelam.
Di bawah ini diberikan berbagai contoh diagram beserta rumus bunga berbagai jenis tumbuhan yang tergolong dalam beberapa suku tumbuhan yang lazim sudah dikenal:
1.       Suku Palmae (Arecaceae) misalnya kelapa (Cocos nucifera L.)
U K 3. C 3. A (6). G 0
T K 3. C 3. A 0. G (3)
2.       Suku Graminaeae (Poaceae), misalnya padi (Oriza sativa L.)
S  K 1 + (2). C 2  + 0. A 3. G 1
3.       Suku Cannaceae, misalnya bunga tasbih (Canna indica Hort.)
S K 3. C 3. A 5. G
4.       Suku Orchidaceae, misalnya anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis Bl.) yang hanya mempunyai 1 benang sari yang subur. Dan anggrek kasut (Cypripedium javanicum Reinw.), yang mempunyai 2 benang sari yang subur:
S  P 3 + 3. A 1 + 0. G (3) (Phalaenopsis)
S  P 3 + 3. A 0 + 2. G (3) (Cypripedium)
5.       Suku Liliaceae, misalnya kembang sungsang (Gloriosa superba L.)
S ' P 3 + 3. A 3 + 3. G (3)
6.       Suku Papilionaceae, misalnya orok-orok, kembang telang (Clitoria ternatea L.)
S  K (5) C 5. A 1 + (9). G 1
7.       Suku Malvaceae, misalnya kapas (Cossypium sp.), waru (Hibiscus tiliaceus L.), dan lain-lain.
S ' K (5). [C 5. A (∞)]. G (5)
8.       Suku Bombacaceae, misanya kapok randu (Ceiba pentandra Gaertn.), durian (Durio zibethinis L.)
S ‘ K (5). C 5. A (∞). G (5)
9.       Suku Solanaceae, misalnya kecubung (Datura metel L.), tembakau (Nicotiana tabacum L.), dll.
S  K (5). C 5. A 5. G (2)
10.   Suku Cruciferae (Brassicaceae), misalnya lobak (Raphanus sativus L.)
S ‘ K 4. C 4. A 2. + 4. G (2)
11.   Suku Nyctaginaceae, misalnya bunga pagi sore (Mirabilis jalapa L.)
S ‘ K (5). C (5). A 5. G (5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s